From ISLAMIC

Jumat, 06 Mei 2011

MAKNA LAA ILAAHA ILALLAH

0 komentar

MAKNA LAA ILAAHA ILALLAH (TIADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH MELAINKAN ALLAH)


Kalimat laa ilaaha illallah ini mengandung makna penafian (peniadaan) sesembahan selain Allah dan menetapkannya untuk Allah semata.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
    "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah." (Muhammad: 19)
    Mengetahui makna laa ilaaha illallah adalah wajib dan harus didahulukan dari seluruh rukun yang lainnya.
  2. Nabi Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda:

    "Barangsiapa mengucaphan laa ilaaha illallah dengan Keikh-lasan hati, pasti ia masuk Surga." (HR. Ahmad, hadits shahih)
    Orang yang ikhlas ialah yang memahami laa ilaaha illallah, mengamalkannya, dan menyeru kepadanya sebelum menyeru kepada yang lainnya. Sebab kalimat ini mengandung tauhid (pengesaan Allah), yang karenanya Allah menciptakan alam semesta ini.
  3. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam menyeru pamannya Abu Thalib ketika menjelang ajal,

    "Wahai pamanku, katakanlah, 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), seuntai kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah, maka ia (Abu Thalib) enggan mengucapkan laa ilaaha illallah." (HR. Bukhari dan Muslim)
  4. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau mengajak (menyeru) bangsa Arab: "Katakanlah, 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), maka mereka menjawab: 'Hanya satu tuhan, kami belum pernah mendengar seruan seperti ini?' Demikian itu, karena bangsa Arab memahami makna kalimat ini. Sesungguhnya barangsiapa mengucapkannya, niscaya ia tidak menyembah selain Allah. Maka mereka meninggalkannya dan tidak mengucapkannya. Allah I berfirman kepada mereka:

    "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mere-ka, 'Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah)', mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sem-bahan-sembahan kami karena seorang penyair gila? 'Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)'." (Ash-Shaffat: 35-37)

    Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda:

    "Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) dan mengingkari sesua-tu yang disembah selain Allah, maka haram hartanya dan darah-nya (dirampas/diambil)." (HR. Muslim)

    Makna hadits tersebut, bahwasanya mengucapkan syahadat me-wajibkan ia mengkufuri dan mengingkari setiap peribadatan kepada selain Allah, seperti berdo'a (memohon) kepada mayit, dan lain-lain-nya.
    Ironisnya, sebagian orang-orang Islam sering mengucapkan syahadat dengan lisan-lisan mereka, tetapi mereka menyelisihi maknanya dengan perbuatan-perbuatan dan permohonan mereka kepada selain Allah.
  5. Laa ilaaha illallah adalah asas (pondasi) tauhid dan Islam, pedoman yang sempurna bagi kehidupan. Ia akan terealisasi dengan mempersembahkan setiap jenis ibadah untuk Allah. Demikian itu, apabila seorang muslim telah tunduk kepada Allah, memohon kepa-daNya, dan menjadikan syari'atNya sebagai hukum, bukan yang lain-nya.
  6. Ibnu Rajab berkata: "Al-Ilaah (Tuhan) ialah Dzat yang dita'ati dan tidak dimaksiati, dengan rasa cemas, pengagungan, cinta, takut, pengharapan, tawakkal, meminta, dan berdo'a (memohon) ke-padaNya. Ini semua tidak selayaknya (diberikan) kecuali untuk Allah Shalallahu Alaihi Wa Salam . Maka barangsiapa menyekutukan makhluk di dalam sesuatu per-kara ini, yang ia merupakan kekhususan-kekhususan Allah, maka hal itu akan merusak kemurnian ucapan laa ilaaha illallah dan mengan-dung penghambaan diri terhadap makhluk tersebut sebatas perbuatannya itu.
  7. Sesungguhnya kalimat "Laa ilaaha illallah" itu dapat bermanfaat bagi yang mengucapkannya, bila ia tidak membatalkannya dengan suatu kesyirikan, sebagaimana hadats dapat membatalkan wudhu seseorang.
    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda:

    "Barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah, pasti ia masuk Surga." (HR. Hakim, hadits hasan)

Minggu, 27 Februari 2011

Masa Berakhirnya Para Toghut

0 komentar

Revolusi di Tunisia, Mesir, dan disusul di negeri-negeri Islam lainnya diharapkan bisa menjadi titik awal kebangkitan Islam. Hal ini juga menandakan berakhirnya masa para toghut di negeri-negeri kaum Muslimin dan dimulainya masa penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai kekhilafahan Islam. Insya Allah!

Melacak Jejak Toghut Mendeklarasikan Tauhid

Sungguh, ingkar kepada toghut dan beriman kepada Allah adalah pondasi kehidupan seorang muslim. Hal ini merupakan realisasi syahadat La ilaha illallah yang mencakup an-nafyu (peniadaan) dan al-itsbat (penetapan). Hal ini juga merupakan inti seruan dakwah para nabi sejak dahulu hingga kini. Dengan demikian, siapa pun yang dapat merealisasikan ingkar kepada toghut dan beriman kepada Allah maka sungguh dia telah mantap urusannya dan telah berjalan di atas jalan yang lurus.

Siapakah para toghut dan dimanakah mereka berada ? Dan siapa pula para pendukung toghut dan bagaimana hukumnya ? Sungguh mengetahui seluruh masalah ini saat ini adalah perkara penting bagi seluruh muslim, apalagi yang menginginkan tegaknya izzul Islam wal muslimin. Karena seluruh bagunan Islam dan aplikasinya berupa pelaksanaan syariat tidak akan pernah terealisir tanpa mengkufuri toghut, memastikan keberadaan mereka, membongkar selubung mereka, membenci mereka, dan memerangi mereka. Niscaya, jika kita telah mengetahui apa saja toghut di dunia ini dan sikap manusia terhadapnya, maka kita melihat kebanyakan manusia berpaling dari ibadah kepada Allah dan lalu beribadah kepada toghut, dan dari berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi berhukum kepada toghut. Dan dari mentaati Allah serta mengikuti Rasul-Nya menjadi mentaati toghut serta mengikutinya.

Sungguh, orang-orang kafir tidak mungkin melakukan kerusakan di bumi atau menzalimi sebuah bangsa, kecuali pasti dengan bantuan orang-orang yang mendukungnya untuk melakukan kezaliman dan kerusakan, dan yang menjaga mereka dari orang yang ingin membalasnya. Dengan demikian, orang kafir itu tidak akan bisa terus melakukan kerusakan kecuali lantaran ada orang yang membantu dan membelanya, dan merekalah para anshoru toghut, penolong toghut, yang statusnya juga sama dengan toghut itu sendiri.

Dengan demikian, pada hakikatnya peperangan yang dilancarkan kaum muslimin terhadap para penguasa toghut, dengan tujuan menggulingkan mereka demi mengangkat seorang penguasa muslim, maka peperangan tersebut pada kenyataannya adalah peperangan melawan para pendukung mereka yang terdiri dari para pembela toghut. Oleh karena itu wajib hukumnya mengetahui siapa para toghut dan pendukungnya ini, dan status hukum mereka di sisi Allah SWT

Menolak Thoghut Adalah Kewajiban Pertama Dalam Islam

Kewajiban pertama atas setiap Muslim adalah Tauhid (beribadah kepada Allah tanpa menyekutukanNya); dan pilar pertama Tauhid adalah Al Kufur Bit Thoghut, atau menolak Thoghut. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk konsep, benda tertentu atau seseorang.

Thoghut telah didefenisikan oleh Shahabat dan Ulama klasik yang mengikuti jalan salaf yaitu: "Sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti selain dari Allah."

Imam Malik bin Anas berkata: "Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau ditaati) selain Allah." (Diriwayatkan dalam Al Jaami' li Ahkaam Al Qur'an oleh Imam Al Qurtubi)

Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: "Dan thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati." (Risalatun fii Ma'naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Thagut dan Pembahasannya Menurut Para Ulama

Pembahasan masalah toghut masyhur di kalangan para ulama. Mereka telah menjelaskan masalah ini secara rinci dan umat menerapkannnya secara pasti. Bahkan masalah pembahasan toghut ini menjadi bahasan pertama dan utama dalam Islam. Sebagaimana yang telah kita maklumi bahwasanya:

1.Inti dakwah para rasul-rasul adalah: beriabadah kepada Allah dan menjauhi thaghut (QS. An Nahl (16): 36)

2.Iman seorang tidak sah sehingga ia mengkufuri thaghut (QS. Al Baqarah: 256)

3.Masalah thaghut dan mengkufurinya adalah termasuk masalah iman dan kufur, dan tidak ada masalah yang lebih penting dalam dien ini dibandingkan dengan masalah iman dan kufur dan tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada kesalahan dalam masalah iman dan kufur.

Para Penolong & Ulama Toghut

Adapun yang dimaksud dengan ansharuth thawaghit (pembela-pembela thaghut) adalah siapa saja yang menolong mereka (para toghut) dengan ucapan maupun perbuatan. Sehingga kalaupun penolong atau pembela tersebut pemerintah negara lain, maka hukumnya juga sama.

Termasuk ke dalam pembela para toghut adalah mufti atau ulama pemerintah toghut, yakni mereka yang selalu berlawanan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Allah SWT., berfirman :

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS Huud 11: 113)

Siapakah orang yang lebih salah dari orang yang membela syetan atau orang-orang yang membuat keringanan atas ke-kufuran-nya? Jika seseorang tidak menolak thaghut (dalam realitas, tidak hanya secara teori) bagaimana bisa kita mempercayai dia untuk masalah dien kita? Tauhid adalah persoalan yang utama yang harus diperhatikan.

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS Al Jumu'ah 62: 5)

Wallahu'alam bis showab!

Jumat, 11 Februari 2011

Fir'aunisme (Tuhan yang diklaim oleh Fir'aun)

0 komentar

Fir'aunisme (Tuhan yang diklaim oleh Fir'aun)

Oleh: Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman (Fakallahu ‘Asrah)

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul’alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya.

Sering sekali kita mendengar ucapan: “Alangkah durjananya Fir’aun, bagaimana bisa dia mengaku tuhan dan membunuhi anak-anak laki-laki?”. Ada pertanyaan yang harus dijawab: Ketuhanan macam apa yang diklaim oleh Fir’aun saat dia mengatakan:

“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at: 24)

Dan saat Dia mengatakan:

“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash: 38)

Apakah dia mengklaim menciptakan langit dan bumi beserta isinya? Apakah dia mengklaim memiliki manfaat dan madlarat? Dan apakah bentuk peribadatan kaum Fir’aun kepadanya? Serta apakah ada orang-orang di zaman sekarang yang seperti Fir’aun?

Mari kita kupas dengan merujuk kepada dalil-dalil syar’iy lalu kita hubungkan dengan realita…

Katahuilah, bahwa Fir’aun sama sekali tidak mengaku sebagai pencipta langit dan bumi, dia mengetahui benar bahwa dirinya terlahir dari manusia, dan apa yang ada di sekitarnya bukanlah dia yang menciptakan, oleh sebab itu Musa ‘alaihissalam berkata kepadanya:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata”. (Al Isra: 102)

Jadi, Fir’aun tidak mengklaim penciptaan langit dan bumi beserta isinya…

Fir’aun juga tidak mengaku bisa mendatangkan manfaat atau menolak bala, buktinya adalah tatkala Allah mengirimkan taufan, belalang, kutu, katak, dan air minum menjadi darah, maka Fir’aun dan kroni-kroninya malah datang meminta do’a kepada nabi Musa agar diselamatkan dari adzab yang menimpa mereka, sebagaimana yang Allah ta’ala kisahkan kepada kita:

“Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”. (Al A’raf: 134)

Buktinya juga adalah bahwa dia meminta bantuan para tukang sihir untuk mengalahkan mukjizat nabi Musa ‘alaihissalam dan dia meminta pendapat para pejabat negerinya dalam menanggulangi mukjizat nabi Musa ‘alaihissalam:

“Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?” (Asy Syu’ara: 34-35)

Dan firman-Nya ta’ala tentang ucapan Fir’aun kepada khalayak:

“Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang” (Asy Syu’ara: 40)

Jadi kalau demikian keadaannya, apa sebenarnya ketuhanan yang diklaim Fir’aun itu? dan apa bentuk peribadatan rakyat Mesir kepadanya, serta bagaimana kaitannya dengan realita masa sekarang?

Saya akan memahamkan dulu kepada sifat khusus ketuhanan yang berkaitan dengan hal ini, kemudian menghubungkan dengan kisah Fir’aun zaman Nabi Musa ‘alaihissalam dan dengan realita Fir’aun-Fir’aun masa sekarang…

Di antara sifat khusus ketuhanan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah al hukmu wa at tasyri’ (kewenangan pembuatan hukum) yang tidak boleh disandarkan kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (Al An’am: 57).

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan bagi-Nyalah segala penentuan hukum dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (Al Qashash: 70)

Dikarenakan Allah ta’ala adalah yang menciptakan semua makhluk, maka hanya Dia-lah yang berhak memerintahkan dan menetapkan hukum sebagaimana firman-Nya:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. (Al A’raf: 54)

Penyandaran kewenangan pembuatan hukum itu adalah ibadah yang hanya disandarkan kepada Allah ta’ala dan tidak boleh disandarkan kepada selain Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada Dia” (Yusuf: 40)

Dan dikarenakan ini adalah hak khusus Allah, maka dia tidak menjadikan satupun sebagai sekutu-Nya di dalam penentuan hukum ini, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum”. (Al Kahfi: 26)

Dan dalam qira’ah Ibnu Amir yang mutawatir dibaca: “Dan janganlah kamu menyekutukan seorangpun di dalam (hak) menetapkan hukum” (Al Kahfi: 26)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut para pembuat undang-undang atau hukum selain Dia sebagai sekutu-sekutu yang diibadati selain-Nya, sebagaimana di dalam firman-Nya:

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka ajaran yang tidak diizinkan Allah?”. (Asy Syura: 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mencap para pembuat hukum selain Diri-Nya sebagai arbab (tuhan-tuhan yang diibadati) selain Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Mereka (orang-orang Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya (ahli ilmu) dan rahib-rahib (para pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah: 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis:

1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib

2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib

3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah

4. Mereka telah musyrik

5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab.

Bentuk ketuhanan macam apa yang mereka klaim dan bentuk peribadatan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani kepada alim ulama dan para pendetanya? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu di dalam hadits hasan dari ‘Adiy ibnu Hatim, ia datang ─saat masih Nashrani─ berkata: “Kami tidak pernah mengibadati mereka”. Di sini ‘Adiy ibnu Hatim dan orang-orang Nashrani merasa tidak pernah beribadah kepada alim ulama dan para pendeta, karena mereka tidak pernah sujud dan shalat kepadanya, dan mereka tidak paham apa yang dimaksud dengan peribadatan dan pentuhanan alim ulama dan pendeta itu, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal itu seraya berkata: “Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”, maka ‘Adiy berkkata: “Ya, benar”, maka Rasulullah berkata lagi: “Itulah bentuk peribadatan kepada mereka”. Yaitu: bukankah mereka membuat hukum dan kalian mematuhi atau menyetujui dan menjadikan hukum mereka sebagai acuan?, dan ‘Adiy mengiakannya.

Jadi, pemposisian diri sebagai tuhan di sini adalah dengan pengklaiman atau pengakuan akan keberhakkan pembuatan hukum dan undang-undang yang mana itu merupakkan hak khusus Allah. Oleh sebab itu Allah ta’ala mencap para penggulir hukum atau ajaran atau undang-undang selain Diri-Nya sebagai syuraka (sekutu-sekutu) yang diibadati oleh kaum musyrikin, sebagaimana di dalam firman-Nya:

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka ajaran yang tidak diizinkan Allah?”. (Asy Syura: 21)

Sedangkan bentuk peribadatan yang dilakukan oleh kaum Nashrani itu bukanlah sujud, ruku’, akan tetapi dengan ketaatan, kepatuhan, dan kesetiaan kepada hukum yang mereka buat. Oleh sebab itu Allah ta’ala mencap MUSYRIK orang-orang yang mentaati para pembuat hukum dalam hukum yang mereka buat, dan Dia mencap hukum buatan itu sebagai wahyu (bisikan) syaitan di dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian; dan jika kalian mentaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Al An’am: 121)

Al Imam Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih bahwa kaum musyrikin mendebat kaum muslimin agar menyetujui mereka perihal penghalalan bangkai seraya mengatakan: “Apa yang disembelih kalian dengan tangan kalian adalah halal, sedangkan apa yang disembelih Allah dengan tangan-Nya yaitu ─bangkai─ adalah haram”. Dengan ucapan ini mereka mendesak kaum muslimin agar menyetujui penghalalan bangkai, namun Allah ta’ala menghati-hatikan kaum muslimin dengan firman-Nya: “dan jika kalian mentaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Al An’am: 121)

Di dalam ayat ini Allah menetapkan beberapa hal:

  • · Hukum yang bukan dari Allah adalah bisikan syaitan,
  • · Orang-orang yang membuat hukum adalah wali-wali (kawan-kawan) syaitan,
  • · Membuat atau menyetujui satu hukum saja adalah merupakan kemusyrikan,
  • · Peribadatan kepada pembuat hukum selain Allah ta’ala adalah dengan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan kepada hukum tersebut,
  • · Orang yang menyetujui hukum buatan walaupun hanya satu hukum saja, maka dia adalah orang musyrik.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat tersebut: “Bahwa setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”, (Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaul Bayan: … )

Bila anda telah memahami bahwa pengklaiman keberhakkan membuat hukum adalah pengklaiman ketuhanan, maka anda akan memahami bahwa ketuhanan yang diklaim Fir’aun itu adalah ketuhanan semacam ini, yaitu bahwa dirinyalah yang berhak membuat hukum dan hukumnyalah yang paling tinggi [“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at: 24)] serta tidak ada tuhan pembuat selain dirinya [“Dan berkata Fir'aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash: 38)], dan barangsiapa yang mengikuti hukum selainnya maka akan mendapat ancaman penjara:

“Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (Asy Syu’ara: 29)

Dan anda juga memahami bahwa peribadatan kaum Fir’aun kepadanya adalah bukan dengan shalat dan do’a kepadanya, akan tetapi dengan kepatuhan, ketaatan, kesetiaan kepada produk hukumnya:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya”. (Az Zukhruf: 54)

Fir’aun dan para pembesar kaumnya berkata perihal Musa dan Harum ‘alaihimas salam:

“Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), Padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Al Mukminun: 47)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat: “Orang-orang yang menghambakan diri” adalah orang-orang yang mentaati, sebagaimana firman-Nya:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. (Yasin: 60)

Makna menyembah syaitan adalah mengikuti atau mentaati syaitan.

Bila anda telah memahami macam ketuhanan yang diklaim Fir’aun, maka mari kita mengenal Fir’aun-Fir’aun zaman sekarang di negeri ini…

Untuk mengetahui Fir’aun-Fir’aun di negeri ini adalah sangat mudah, cukup dengan membuka kitab yang diimani kaum musyrikin di negeri ini dan yang lebih mereka sucikan daripada Al Qur’an Al Karim, yaitu Undang Undang Dasar 1945 yang selalu mereka junjung tinggi dalam setiap kesempatan.

Setiap orang atau lembaga yang diberi kewenangan pembuatan hukum atau undang-undang, maka ia itu adalah yang dipertuhankan, sama dengan Fir’aun, di antaranya adalah MPR berdasarkan Undang Undang Dasar bab III pasal 3 (1):

“Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan Undang Undang Dasar”

Lembaga Fir’aunisme yang lain adalah DPR berdasarkan Bab VII pasal 20 (1):

“Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang”

Juga sebagaimana yang dikatakan dalam bab VII pasal 21 (1):

“Anggota DPR berhak mengajukan usul rancangan undang-undang”

Juga di dalam Bab III pasal 5 (1):

“Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”

Serta pasal-pasal lainnya yang memberikan hak ketuhanan (baca: pembuatan hukum) kepada orang atau lembaga-lembaga tertentu.

Bila anda memahami ketuhanan semacam ini, maka anda akan mengetahui bahwa gedung-gedung Parlemen itu adalah sama dengan candi-candi tempat pemujaan kaum musyrikin. Bila di candi-candi itu dipajang patung-patung berhala yang diibadati dengan sujud, do’a dan pesembahan sesajian, maka di gedung Parlemen itu dipenuhi oleh berhala-berhala hidup yang diibadati dengan ketaatan terhadap hukum dan undang-undang yang mereka gulirkan.

Bila dahulu sebagian kaum musyrikin Arab membuat tuhan dari adonan roti yang mereka sembah dan bila lapar maka mereka memakannya dan kemudian membuat yang baru lagi untuk mereka sembah, maka demikian juga kaum musyrikin hukum; mereka membuat hukum lalu mereka mengibadatinya dengan ketaatan, dan bila sudah tidak layak lagi maka mereka menyantapnya berama-ramai dengan amandemen dan revisi, kemudian mereka membuat adonan hukum baru, mereka menggodoknya dan terus mereka menggulirkannya untuk diibadati… “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

Umar ibnul Khaththab radliyallahu’anhu berkata: “Ikatan-ikatan Islam ini hanyalah terurai satu demi satu bila tumbuh di dalam Islam ini orang yang tidak mengenal Jahiliyyah”

Adapun kejahatan Fir’aun dahulu adalah membunuh anak-anak laki-laki dari keluargaorang-orang yang beriman, menngancam orang-orang yang membangkang kepada undang-undang dan ajarannya dengan ancaman pembunuhan dan penjara, menuduh orang-orang yang beriman sebagai penebar ajaran sesat dan kerusakan, menuduh mereka ingin merampas kekuasaan dari tangannya, serta tuduhan lainnya…

Adapun pembunuhan setiap anak laki-laki, maka seperti dikatakannya: [“Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman” (Al Mukmin: 25)]. Karena jika dibiarkan, Fir’aun khawatir anak-anak itu membawa petaka bagi kekuasaannya di masa mendatang, namun walaupun mereka dibunuh fisiknya, tapi mereka berada di atas fithrahnya yang bersih, sehingga mereka insyaAllah masuk surga berdasarkan hadits-hadits shahih perihal anak orang mukmin yang meninggal sebelum akil baligh.

Berbeda halnya dengan Fir’aun-Fir’aun zaman sekarang dimana mereka itu lebih jahat daripada Fir’aun zaman dulu. Fir’aun-Fir’aun zaman sekarang membunuh fithrah anak-anak melalui pendidikan-pendidikan di sekolah-sekolah milik thaghut, menjauhkan anak-anak dari tauhid dan mendoktrin mereka agar loyal dan setia kepada Fir’aun zaman sekarang dan undang-undangnya, karena orang yang mati fithrah tauhidnya maka hakikatnya adalah orang yang sudah mati:

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Al An’am: 122)

Mereka tumbuh dewasa sebagai orang-orang musyrik yang setia kepada system dan perundang-undangan yang dibuat Fir’aun itu, dan andai mereka mati di atas keadaan seperti ini maka mereka mati dalam keadaan kafir yang mana hal itu mengkekalkan di dalam neraka. Jadi nyata dan jelas bahwa Fir’aun-Fir’aun zaman sekarang lebih jahat daripada Fir’aun zaman dahulu.

Dan saat Fir’aun-Fir’aun zaman sekarang tidak mampu merubah fithrah anak kaum muslimin, baik karena kaum muslimin paham akan hal ini dan menjauhkan anak-anak mereka dari sekolah-sekolah Fir’aun serta mendidiknya di atas tauhid, ataupun saat dewasa anak-anak itu Allah ta’ala bukakan hatinya untuk menerima tauhid dan berbalik memusuhi dan menentang Fir’aun dan sistemnya, maka Fir’aun-Fir’aun itu akan menggunakan cara-cara yang pernah digunakan Fir’aun zaman dulu, yaitu seperti:

Pembunuhan:

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa”. (Al Mukmin: 26)

Penyiksaan yang sadis, sebagaimana yang dilakukan kepada para mantan tukang sihir (ansharnya) yang sadar:

“Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. (Thaha: 71)

Pemberantasan dan pengejaran:

“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kalian akan dikejar”. Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”. (Asy Syu’ara: 52-56)

Ancaman penjara:

“Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (Asy Syu’ara: 29)

Tuduhan ingin merubah idiologi negara dan penebar kerusakan:

“Sesungguhnya aku khawatir dia (Musa) akan menukar dien kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (Al Mukmin: 26)

Sedangkan makna dien adalah undang-undang sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut dien (undang-undang) Raja” (Yusuf: 76)

Jadi, Fir’aun khawatir Musa ‘alaihissalam menukar undang-undang atau idiologi negaranya, juga tuduhan ingin merebut kekuasaan:

“Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?” (Yunus: 78)

Bagitulah, semua orang kafir melakukan hal yang serupa terhadap kaum mukminin, dimana Fir’aun-Fir’aun masa sekarang, baik dia itu nengaku muslim maupun tidak, mereka melakukan pembunuhan terhadap para penegak Laa ilaaha illallaah, bisa dengan pembunuhan misterius, pembunuhan masal ataupun lewat jalur persidangan hukum thaghut mereka, penjara, penahanan, penggerebekan, dan pengejaran adalah lumrah bisaa dilakukan para kaki tangan Fir’aun negeri ini dan negeri-negeri lainnya. Lisan mereka mengatakan “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi, tidak ada tempat bagi hukum Allah di negeri ini, dan hanya hukum dan idiologi kamilah yang paling tinggi di negeri ini”. Apakah mereka tidak mngetahui bahwa di sana ada hari penentuan dan pembalasan yang penyiksaannya tidak sebanding dengan penyiksaan mereka, penjaranya adalah Jahannam yang mengerikan, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, tiada kematian dan istirahat, namun yang ada hanyalah penyiksaan abadi…

Wahai Fir’aun dan bala tentaranya:

“Untuk kalian kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?!” (Al Mukmin: 29)

Kami mengajak kalian kepada hukum Allah ta’ala yang merupakan keselamatan dari siksa-Nya, namun kalian malah mengajak kami untuk setia kepada hukum buatan yang kafir yang menghantarkan ke dalam neraka…

Kalian mengajak kami untuk kafir kepada Allah dan menyekutukan-Nya dalam hak hukum… Kami lebih peduli terhadap keselamatan kalian daripada kepedulian kalian terhadap keselamatan kami, namun kalian membalas kepedulian baik kami dengan sikap buruk kalian kepada kami…

“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kalian kepada keselamatan, tetapi kamu kalian menyeru aku ke neraka?. (Kenapa) kalian menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kalian (beriman) kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?. Sudah pasti bahwa apa yang kalian seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kalian akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kalian. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Al Mukmin: 41-44)

Kalian malah membalas air susu dengan air tuba !, kami mengajak agar kalian tidak masuk ke dalam penjara neraka, tapi kalian malah menjebloskan kami para penyeru tersebut ke dalam penjara-penjara kalian…

Ingat, hakikat kehidupan adalah ridha Allah dan masa depan yang sebenarnya adalah masa depan akhirat, maka janganlah sekali-kali kalian menukarnya dengan kehidupan yang sesaat dan penuh kekeruhan…

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”. (Ali Imran: 196-197)

Ingat, hakikat kemenangan dan keberhasilan adalah dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga:

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung” (Ali Imran: 185)

Lakukanlah apa yang kalian suka terhadap ajaran Allah dan para pemeluknya, tapi ingat cahaya tauhid pasti akan menerangi bumi Allah ta’ala dan kekuasaan hukum kafir kalian akan sirna…

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (At Taubah: 32)

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para shabat, walhamdulillahi rabbil ‘alamin…

Rutan Polda Metro Jaya , Pertengahan Rajab 1431

Kamis, 10 Februari 2011

SALAFIYYAH YAHUDIYYAH

0 komentar

SALAFIYYAH YAHUDIYYAH

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penutup para Nabi, keluarga dan para sahabat semuanya. Wa ba’du:

Mungkin sekilas pembaca kaget dan mengingkari judul di atas, tapi perlu diketahui bahwa judul di atas tidak ada kaitan dengan generasi As Salaf Ash Shalih dan yang mencontoh mereka yang telah menegakkan dien ini dengan tinta dan darah yang berlepas diri dari orang-orang kafir dan orang-orang murtad lagi menjihadi mereka dengan jiwa, harta dan lisan. Namun yang saya maksudkan di sini adalah sekte yang mengklaim dirinya sebagai salafiyyah atau salafi yang menurut pengakuan palsu mereka bahwa mereka itu memahami Al Qur’an dan As Sunnah sesuai manhaj As Salaf Ash Shalih, namun hampir di semua Negara mereka menjadikan para penguasa murtad yang berhukum dengan hukum thaghut sebagai imam atau ulil amri mereka yang wajib diberikan loyalitas dan mereka hampir di semua tempat selalu menuduh mujahidin muwahhidin yang mengkafirkan para penguasa itu, menentangnya dan memeranginya sebagai khawarij yang lebih busuk daripada para penguasa yang menerapkan hukum thaghut itu. Sehingga pada akhirnya mereka damai dengan para thaghut dan para thaghut pun aman dari tangan dan lisan mereka, akan tetapi kaum muwahhidin tidaklah selamat dari lidah mereka yang panjang lagi tajam. Damai dengan penyembah berhala dan perang terhadap orang-orang Islam yang mereka tuduh sebagai khawarij.

Mereka memiliki kesamaan dengan orang yahudi dalam pemahaman tauhid dan dalam sikap terhadap penganut tauhid.

Adapun di dalam masalah tauhid yaitu di dalam masalah iman dan kufur, maka sesungguhnya sekte salafi maz’um menganggap bahwa kemusyrikan dan kekafiran penguasa yang membuat undang-undang, menerapkan hukum thaghut, merampas hak khusus Allah yaitu pembuatan hukum dan melimpahkannya kepada para anggota Parlemen dengan sistem demokrasinya, menjadikan UUD 1945 sebagai kitab hukum tertinggi yang menjadi rujukan di dalam segala permasalahan sebagai pengganti Kitabullah, menjadikan ideologi (dien) Pancasila sebagai dien yang lebih tinggi dari Islam dan sebagian ajaran Islam boleh diamalkan kalau tidak menyelisihi Pancasila dan sebagian lainnya tidak boleh karena menyelisihinya sehingga penguasa negeri ini loyal penuhnya kepada Pancasila bukan kepada Islam, dan memberikan loyalitas kepada lembaga-lembaga kafir lokal maupun internasional. Sekte salafi maz’um menganggap kemusyrikan dan kekafiran besar yang berlapis-lapis itu hanyalah kufrun duna kufrin atau kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam. Padahal kekafiran dan kemusyrikan para penguasa yang sifat-sifatnya seperti itu dengan kufur akbar yang berlapis-lapis yang mengeluarkan dari Islam adalah permasalahan yang nyata jelas lagi terang benderang yang lebih terang dari matahari di siang bolong karena dalilnya sangat banyak dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma yang telah kami paparkan di tempat lain.

Sedangkan kelompok yang pertama kali menganggap syirik akbar sebagai syirik ashghar yang tidak akan mengekalkan pelakunya di dalam neraka adalah orang-orang yahudi, dimana mereka menganggap penyembahan anak sapi yang dibuat oleh Samiri yang merupakan syirik akbar hanya sebagai syirik ashghar yang tidak mengekalkan di dalam neraka, sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan tentang mereka:

وَقَالُو لَن تَمَسَّنَا النَّارُ اِلاَّ اَيَّامًا مَعْدُودَةً

“Dan mereka (orang-orang yahudi yang menyembah anak sapi) berkata: “Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja.”“ (Al Baqarah: 80)

Juga firman-Nya ta’ala:

وَقَالُو لَن تَمَسَّنَا النَّارُ اِلاَّ اَيَّامًا مَعْدُودَتٍ

“Mereka berkata: “Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja.”“ (Ali Imran: 24)

Mereka beranggapan bahwa andaikata mereka masuk neraka, maka hanya empat puluh hari saja yaitu selama waktu empat puluh hari mereka menyembah anak sapi.

Dan para pengklaim salafi-pun demikian, dimana apa yang dilakukan para penguasa thaghut dan ansharnya berupa syirik hukum, penyembahan undang-undang, kesetiaan kepada UUD’45 dan Pancasila, penganutan dien demokrasi dan kekufuran lainnya, menurut para pengklaim salafi hal itu tidaklah membatalkan keislaman dan tentunya andaikata mati diatas hal itu tidak akan mengekalkan di neraka, karena itu hanya sebatas kefasiqan dan kufrun duuna kufrin dan pelakunya tetap dianggap muslim dan bahkan sebagai ulil amri yang wajib ditaati dan kebejatannya tidak boleh dibicarakan di hadapan umum, dan orang-orang yang mengkafirkannya adalah khawarij dan yang memberontak untuk menjatuhkannya adalah anjing-anjing neraka yang sangat besar pahala membunuhnya. Ini berkaitan dengan kesamaan pemahaman aqidah dalam hal al iman dan al kufru.

Sedangkan kaitan dengan kesamaan sikap, maka perhatikanlah Firman Allah ta’ala ini :

اَلَمْ تَرَ اِلئَ الَذِينَ اُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَبِ يُؤْمِنُونَ بِالجِبْتِ وَالطَّغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا هَؤُلاَءِ اَهْدَي مِنَ الذِيْنَ ءَامَنُوا سَبِيلاً

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab (Taurat)? mereka beriman kepada jibt dan thaghut dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. (An-Nisa : 51)

Ayat ini berkaitan dengan para tokoh yahudi yang datang kepada musyrikin Mekkah dalam rangka memprovokasi mereka agar memerangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan kaum muslimin di Madinah. Allah ta’ala menyebutkan bahwa mereka itu ahli ilmu dan Al Kitab, mereka beriman kepada jibt (yaitu apa yang manusia tunduk kepadanya selain Allah) dan thaghut (segala yang melampau batas dan segala yang diibadati selain Allah seraya ridla dengannya), dan mereka menganggap bahwa kaum musyrikin Mekkah yang menyembah berhala itu lebih baik daripada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang bertauhid yang menentang segala thaghut dan menolak loyal kepada kekuasaannya.

Dan realita sikap yahudi terhadap kaum musyirikin dan terhadap kaum mukminin ini adalah sama persis dengan sekte salafi maz’um hari ini, dimana para tokoh mereka itu diberi bagian dari ilmu Al Kitab dan As Sunnah, namun mereka itu beriman kepada thaghut dengan bentuk mereka menjadikan para penguasa kafir murtad (yang menurut mereka adalah pemimpin muslim) -yang memberlakukan hukum thaghut, menganut agama (dien) demokrasi, menjadikan Pancasila sebagai pijakan, menjadikan UUD’45 sebagai kitab rujukan hukum tertinggi, dan loyal kepada lembaga-lembaga kafir regional dan internasional- sebagai ulil amri dan pemimpin kaum muslimin yang wajib diberikan kesetiaan dan loyalitas, sedangkan Allah ta’ala telah menggolongkan sikap menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin itu sebagai bentuk sikap kafir kepada Allah ta’ala, kepada Nabi-Nya dan Kitab-Nya, dan itu semakna dengan sikap iman kepada thaghut. Seperti apa yang dikandung dalam Firman-Nya ta’ala:

وَلَوْ كَانُواْ يُؤْمِنُونَ بِالله وَالنَّبِيِّ وَمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَا التَّخَذُوهُمْ اَوْلِيَاءَ

Seandainya mereka beriman kepada Allah, Nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), tentu mereka tidak menjadikan orang-orang kafir itu sebagai pemimpin.” (Al-Maidah: 81)

Ayat ini menjelaskan bahwa iman kepada Allah ta’ala itu tidak bisa bersatu dengan sikap menjadikan orang kafir sebagai pemimpin yang mana sikap semacam ini adalah diantara salah satu makna iman kepada thaghut.

Kemudian setelah menyakini bahwa para penguasa kafir murtad semacam tadi itu adalah kaum muslimin yang maksiat yang tidak batal keislamannya sesuai aqidah salafiyyah yahudiyyahnya itu, dan sedangkan kaum muwahhidin yang mengkafirkannya lagi membangkangnya dan menolak loyal kepadanya adalah Khawarij ahli bid’ah yang sesat versi aqidah salafiyyah yahudiyyah di atas, maka mereka (sekte salafi maz’um) itu mengambil kesimpulan dan sikap bahwa para penguasa thaghut yang berhukum dengan undang-undang buatan, yang menganut sistem demokrasi, yang beerfalsafah Pancasila, yang merujuk kepada UUD’45, yang memerangi wali-wali Allah dan loyal kepada wali-wali syaitan itu adalah lebih baik dan lebih lurus jalannya daripada kaum muwahhidin yang hanya loyal kepada Allah dan hukum-Nya dan berlepas diri dari para thaghut, pemerintahannya, demokrasinya, pancasilanya, UUD’45nya dan kebejatan-kebejatan lainnya. Karena para penguasa dan ansharnya hanyalah ahli maksiat dan sedangkan kaum muwahhidin yang menentangnya itu adalah khawarij lagi ahli bid’ah, sedangkan sesuai manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa ahli bid’ah itu lebih buruk dari ahli maksiat. Halal mengghibah ahli bid’ah dan haram mengghibah penguasa muslim yang maksiat.

Oleh sebab itu hendaklah mereka secara tegas dan mantap memasukkan di dalam point-point manhaj aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah versi salafiyyah yahudiyyah ini bahwa: wajib loyal kepada penguasa yang mengaku muslim walaupun dia memberlakukan undang-undang buatan, berpaham demokrasi, berfalsafah pancasila dan merujuk kepada UUD’45!!!…

Apakah ini manhaj salaf atau manhaj yahudi?!!!

Sadarlah wahai para pengklaim salafi!

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

From ISLAMIC

Advertisement

Pengikut

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com